Matahari mulai menyingsing
dengan malu-malu. Menciptakan semburat-semburat cahaya dipagi subuh. Ketika
semua orang masih tidur terlelap, dia mulai beranjak dari tempat tidurnya.
Memulai rutinitasnya setiap pagi. Dia, wanita 29 tahun bernama Dewi. Seorang ibu
rumah tangga yang baik. Tak pernah melewatkan paginya tanpa mempersiapkan
sarapan untuk suami dan anaknya, mencuci pakaian, dan berbagai kegiatan ibu rumah tangga.
Walau
seorang ibu rumah tangga, Dewi telah berhasil lolos dan menyandang predikat
Sarjana Ekonomi. Namun setelah
berkeluarga, dia memiliih untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga
kecilnya. Tak ada yang menuntut atau memaksanya untuk bekerja, dan dia
meninggalkan gelar sarjananya, membiarkannya berdebu, usang dan tak teranggap lagi.
Suatu pagi dihari Minggu,
Dewi mengajak anaknya Sasa pergi ke pasar untuk berbelanja.
“Maaa.. kenapa harus kepasar sih? Kan panas, becek,
bau lagi.” keluh anaknya.
“Dipasar lebih murah nak, kita bisa menawar harga
barang disini jadi lebih hemat.” kata Dewi kepada anaknya. Ya, meski tak menjadi seorang pekerja, dia
masih menggunakan ilmu ekonomi dalam kehidupan sehari-harin. Setidaknya tak
semua ilmuku ku buang dan kuendapkan. Begitulah yang ada dibenaknya selam ini.
Dalam perjalanan pulang ia
bertemu seorang mahasiswa yang sedang mencari narasumber untuk keperluan
tugasnya. Karena tidak terburu-buru Dewi pun bersedia menjadi narasumbernya.
Mahasiswa itu begitu bersemangat menanyakan beberapa pertanyaan kepada Dewi, dan
Dewi menjawab dengan detail dan cukup memuaskan si narasumber tersebut.
Mahasiswa tadi mengingatkannya dengan masa-masa kuliah nya dulu. Perjuangan
selama menjadi mahasiswa dulu, penuh dengan kerja keras dan pengorbanan. Semua
ilmu yang mungkin belum tentu dia dapatkan dimanapun semasa kuliah dulu.
Mengantarkannya menjadi seorang Sarjana Ekonomi dengan nilai cumlaud. Tak hanya
itu, dia juga menjadi mahasiswa lulusan terbaik kala itu.
“Maaah.. ayoo pulang yooo..” seru Sasa membuyarkan
ingatan lama yang melayang di kepala Dewi.
“Iya.. ayo kita pulang nak.” kata Dewi.
Sesampainya di rumah,
ternyata suaminya sudah pulang. Dewi merasa heran, tak biasanya dia pulang
seawal ini.
“Mas, kok udah pulang?” tanya Dewi kepada suaminya.
“Dek, kita harus bicara. Aku baru diberi tahu, kalau
aku..di PHK.” kata suaminya.
Bagai di sambar petir, Dewi langsung lemas seketika
mendengar cerita suaminya. Yang ada dipikiran Dewi adalah, bagaimana dengan
kelangsungan hidup keluarganya tanpa ada mata pencaharian di keluarganya kini.
Semuanya begitu mendadak, membuat hati Dewi shock. Malam itu Dewi dan suami
tidur tak tenang.
Pagi ini terasa berbeda,
karena Dewi tak harus menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja. Pekerjaan yang
pasti dilakukan suaminya pagi itu adalah mengantarkan Sasa ke sekolah. Selepas
mereka pergi, Dewi merenung, memikirkan kelangsungan hidup keluarganya di masa
depan nanti. Hingga tiba-tiba telepon bordering, dan ternyata itu dari sahabat
dekat Dewi yaitu Irma. Irma meminta Dewi untuk membantu menyiapkan menu untuk
acara dirumahnya. Karena Irma tahu Dewi memang memiliki keahlian lebih di
bidang kuliner. Irma cukup percaya dengan kemampuan sahabatnya itu untuk
meracik bahan biasa menjadi luar biasa. Sesudah percakapan ditelepon itu
berhenti, Dewi mencoba melupakan kegundahan dihatinya. Kini dia mulai merancang
menu untuk acara di rumah Irma. Beberapa menu andalan Dewi siapkan.
Saat tiba hari dimana acara
dimulai, Dewi menghidangkan makanan yang sudah iya persiapkan. Banyak yang
memuji masakannya, dan para tamu yang hadir menikmati hidangan yang di buat
oleh Dewi.
“Dew, makasih lo, masakan kamu sesuatu banget.
Enaaak .” kata Irma.
“Ahaha apaan sih kamu Ir, biasa aja kali.” sahut
Dewi
“Kamu kenapa nggak buka bisnis catering aja sih?” tanya
Irma.
Benar juga. Tak ada salahnya jika aku mencoba bisnis
catering. Tapi, modalnya..
“Udaah aku bakal bantu kamu kok, masalah modal
jangan khawatir. Yakin aja deh kalo mau usaha, harus berani mencoba. “
begitulah kata Irma kepada Dewi.
Saran dari Irma membuat Dewi
berkeinginan untuk mewujudkan angan-angan itu. Tak ada yang salah dengan
mencoba, lebih baik mencoba walaupun salah daripada tidak sama sekali.
Kini niatnya sudah bulat
untuk mendirikan usaha catering. Dengan begitu dia bisa menyalurkan bakat
memasaknya dan ia bisa memanfaatkan ilmunya sewaktu kuliah dulu. Dengan izin
dari suaminya, ia mulai belajar cara mendirikan sebuah usaha. Ia belajar dari
orang disekitarnya, dari sumber di internet ataupun buku.
Dengan ridho dari sang suami
dan dukungan dari anak dan sahabatnya Irma, Dewi pun memulai usaha cateringnya.
Diawali dengan pesanan kecil, baik makanan ringan maupun makanan berat untuk
berbagai bentuk acara. Racikan bumbu yang pas membuat banyak pesanan yang
berdatangan. Hingga, Dewi tak mampu mengatasi pesanannya sendiri sehingga ia
harus merekrut pegawai untuk melancarkan pekerjaannya.
Sudah satu tahun Dewi
merintis usaha cateringnya. Kini, usahanya sudah semakin berkembang. Dewi telah
memiliki duapuluh orang pegawai. Pesanannya bukan hanya untuk acara rumahan,
tapi juga untuk acara-acara penting di perusahaan bahkan pernikahan, dan
berbagai acara lainnya. Pendapatannya kini yang sudah cukup besar.
Dewi bersyukur atas apa yang
ia miliki sekarang. Dia telah melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Dari
yang awalnya hanya sseorang ibu rumah tangga, kini dia telah menjadi seorang
pengusaha bisnis catering yang sukses. Dengan bekal keberanian untuk mencoba,
dia bisa merubah hidupnya dan keluarganya. Ia bertekad untuk tidak puas sampai
disini, dan akan terus menjadi lebih baik. Dewi percaya, bahwa perubahan itu tak
akan terjadi tanpa adanya keberanian untuk bertindak.
No comments:
Post a Comment