Wednesday, 20 August 2014

Satu Langkah Perubahan

Matahari mulai menyingsing dengan malu-malu. Menciptakan semburat-semburat cahaya dipagi subuh. Ketika semua orang masih tidur terlelap, dia mulai beranjak dari tempat tidurnya. Memulai rutinitasnya setiap pagi. Dia, wanita 29 tahun bernama Dewi. Seorang ibu rumah tangga yang baik. Tak pernah melewatkan paginya tanpa mempersiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, mencuci pakaian, dan berbagai kegiatan  ibu rumah tangga.
            Walau seorang ibu rumah tangga, Dewi telah berhasil lolos dan menyandang predikat Sarjana Ekonomi. Namun  setelah berkeluarga, dia memiliih untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga kecilnya. Tak ada yang menuntut atau memaksanya untuk bekerja, dan dia meninggalkan gelar sarjananya, membiarkannya berdebu, usang dan tak teranggap lagi.
Suatu pagi dihari Minggu, Dewi mengajak anaknya Sasa pergi ke pasar untuk berbelanja.
“Maaa.. kenapa harus kepasar sih? Kan panas, becek, bau lagi.” keluh anaknya.
“Dipasar lebih murah nak, kita bisa menawar harga barang disini jadi lebih hemat.” kata Dewi kepada anaknya.  Ya, meski tak menjadi seorang pekerja, dia masih menggunakan ilmu ekonomi dalam kehidupan sehari-harin. Setidaknya tak semua ilmuku ku buang dan kuendapkan. Begitulah yang ada dibenaknya selam ini.
Dalam perjalanan pulang ia bertemu seorang mahasiswa yang sedang mencari narasumber untuk keperluan tugasnya. Karena tidak terburu-buru Dewi pun bersedia menjadi narasumbernya. Mahasiswa itu begitu bersemangat menanyakan beberapa pertanyaan kepada Dewi, dan Dewi menjawab dengan detail dan cukup memuaskan si narasumber tersebut. Mahasiswa tadi mengingatkannya dengan masa-masa kuliah nya dulu. Perjuangan selama menjadi mahasiswa dulu, penuh dengan kerja keras dan pengorbanan. Semua ilmu yang mungkin belum tentu dia dapatkan dimanapun semasa kuliah dulu. Mengantarkannya menjadi seorang Sarjana Ekonomi dengan nilai cumlaud. Tak hanya itu, dia juga menjadi mahasiswa lulusan terbaik kala itu.
“Maaah.. ayoo pulang yooo..” seru Sasa membuyarkan ingatan lama yang melayang di kepala Dewi.
“Iya.. ayo kita pulang nak.” kata Dewi.
Sesampainya di rumah, ternyata suaminya sudah pulang. Dewi merasa heran, tak biasanya dia pulang seawal ini.
“Mas, kok udah pulang?” tanya Dewi kepada suaminya.
“Dek, kita harus bicara. Aku baru diberi tahu, kalau aku..di PHK.” kata suaminya.
Bagai di sambar petir, Dewi langsung lemas seketika mendengar cerita suaminya. Yang ada dipikiran Dewi adalah, bagaimana dengan kelangsungan hidup keluarganya tanpa ada mata pencaharian di keluarganya kini. Semuanya begitu mendadak, membuat hati Dewi shock. Malam itu Dewi dan suami tidur tak tenang.
Pagi ini terasa berbeda, karena Dewi tak harus menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja. Pekerjaan yang pasti dilakukan suaminya pagi itu adalah mengantarkan Sasa ke sekolah. Selepas mereka pergi, Dewi merenung, memikirkan kelangsungan hidup keluarganya di masa depan nanti. Hingga tiba-tiba telepon bordering, dan ternyata itu dari sahabat dekat Dewi yaitu Irma. Irma meminta Dewi untuk membantu menyiapkan menu untuk acara dirumahnya. Karena Irma tahu Dewi memang memiliki keahlian lebih di bidang kuliner. Irma cukup percaya dengan kemampuan sahabatnya itu untuk meracik bahan biasa menjadi luar biasa. Sesudah percakapan ditelepon itu berhenti, Dewi mencoba melupakan kegundahan dihatinya. Kini dia mulai merancang menu untuk acara di rumah Irma. Beberapa menu andalan Dewi siapkan.
Saat tiba hari dimana acara dimulai, Dewi menghidangkan makanan yang sudah iya persiapkan. Banyak yang memuji masakannya, dan para tamu yang hadir menikmati hidangan yang di buat oleh Dewi.
“Dew, makasih lo, masakan kamu sesuatu banget. Enaaak .” kata Irma.
“Ahaha apaan sih kamu Ir, biasa aja kali.” sahut Dewi
“Kamu kenapa nggak buka bisnis catering aja sih?” tanya Irma.
Benar juga. Tak ada salahnya jika aku mencoba bisnis catering. Tapi, modalnya..
“Udaah aku bakal bantu kamu kok, masalah modal jangan khawatir. Yakin aja deh kalo mau usaha, harus berani mencoba. “ begitulah kata Irma kepada Dewi.
Saran dari Irma membuat Dewi berkeinginan untuk mewujudkan angan-angan itu. Tak ada yang salah dengan mencoba, lebih baik mencoba walaupun salah daripada tidak sama sekali.
Kini niatnya sudah bulat untuk mendirikan usaha catering. Dengan begitu dia bisa menyalurkan bakat memasaknya dan ia bisa memanfaatkan ilmunya sewaktu kuliah dulu. Dengan izin dari suaminya, ia mulai belajar cara mendirikan sebuah usaha. Ia belajar dari orang disekitarnya, dari sumber di internet ataupun buku.
Dengan ridho dari sang suami dan dukungan dari anak dan sahabatnya Irma, Dewi pun memulai usaha cateringnya. Diawali dengan pesanan kecil, baik makanan ringan maupun makanan berat untuk berbagai bentuk acara. Racikan bumbu yang pas membuat banyak pesanan yang berdatangan. Hingga, Dewi tak mampu mengatasi pesanannya sendiri sehingga ia harus merekrut pegawai untuk melancarkan pekerjaannya.
Sudah satu tahun Dewi merintis usaha cateringnya. Kini, usahanya sudah semakin berkembang. Dewi telah memiliki duapuluh orang pegawai. Pesanannya bukan hanya untuk acara rumahan, tapi juga untuk acara-acara penting di perusahaan bahkan pernikahan, dan berbagai acara lainnya. Pendapatannya kini yang sudah cukup besar.
Dewi bersyukur atas apa yang ia miliki sekarang. Dia telah melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Dari yang awalnya hanya sseorang ibu rumah tangga, kini dia telah menjadi seorang pengusaha bisnis catering yang sukses. Dengan bekal keberanian untuk mencoba, dia bisa merubah hidupnya dan keluarganya. Ia bertekad untuk tidak puas sampai disini, dan akan terus menjadi lebih baik. Dewi percaya, bahwa perubahan itu tak akan terjadi tanpa adanya keberanian untuk bertindak.

No comments:

Post a Comment